Jumat, 06 Desember 2013

Sudut Pandang Orang Pertama Sebagai Pelaku Utama

 “Aku” sebagai tokoh utama.
Penulis adalah “aku” sebagai tokoh utama cerita dan mengisahkan dirinya sendiri, tindakan, dan kejadian disekitarnya. Pembaca akan menerima cerita sesuai dengan yang dilihat, didengar, dialami, dan dirasakan “aku” sebagai narator sekaligus pusat cerita.

Contoh:
Sambil bermain aku melirik topi lakenku. Kulihat sebuah kursi roda. Duduk di kursi roda itu, seorang tua yang wajahnya tak bisa kulihat dengan jelas karena memakai topi laken seperti aku. Rambutnya gondrong dan sudah memutih seperti diriku, namun ketuaannya bisa kulihat dari tangannya yang begitu kurus dan kulitnya yang sangat keriput. Tangan itulah yang terangkat dan tiba-tiba menggenggam sebuah gitar listrik yang sangat indah.

Contoh :

Ku Relakan Engkau Pergi
            Namaku Salsa, aku mempunyai sahabat yang sempurna. Dan bernama Nia. Aku barsahabat dengannya semenjak kecil, dikarenakan rumah kita berdekatan. Keluargaku pun juga akrab dengan keluarga Nia.
            Setiap hari, waktu ku habis bersamanya. Aku sangat bersyukur bisa menghabiskan waktu dengannya. Aku tau semua tentangnya. Aku tak mau waktu memisahkan kita. Aku sangat sayang padanya.
            Pada suatu hari, Nia dan keluarganya harus keluar kota untuk mengunjungi neneknya. Sebab mereka sangat rindu kepada beliau. Sebelum Nia dan keluarganya berangkat, mereka tak lupa untuk pamit kepada keluargaku. Aku sedih berpisah dengan Nia. Perasaanku berkata akan terjadi apa-apa dengan mereka. Aku berusaha untuk tidak menghiraukan persaan itu, dan ku peluk Nia erat-erat sambil berbisik lirih,”Cepat kembali Nia!” Nia hanya tersenyum dengan manisnya, sambil memberikan kunci rumahnya. Setelah menerima kunci itu rasanya hatiku mulai bisa menerimannya dan tenang. Setelah itu Nia dan keluarngnya bergegas masuk mobil dan berangkat. Tak lupa juga lambaian tangan dari Nia untukku dari dalam cendela mobil. Dalam hatiku, semoga engkau selamat.
            Sudah 1 minggu Nia tak kunjung pulang. Aku hanya bisa melihat rumah terkunci dari cendela kamarku. Aku sangat rindu padanya. Tawanya membuatku tidak kesepian seperti ini. Aku ingin Nia segera pulang, segera bermain bersama kembali. Sekian lama ku merenung, angin sepoi-sepoi telah membuatku tertidur sejenak. Tiba-tiba mimpi buruk tentang Nia membangunkanku. Membuatku terdiam sejenak. Saatku terdiam, terdengar suara tangisan menggangguku. Aku pun beranjak dari kursi dan perlahan mencari suara itu. Saat ku buka pintu kamarku, terlihat ibuku sedang menangis. Aku terkejut, lalu aku bertanya kepada ibu apa yang terjadi? Tanpa dijawab, ibu langsung memelukku dengan erat. Aku semakin binggung apa yang sebenarnya terjadi. Lalu ibu berbisik lirih dengan diiringi tangisan, “Salsa ikhlaskan Nia pergi ya nak?” Mendengar bisikan itu, mataku mulai berkaca-kaca, hatiku seperti tertusuk, dan aku hanya bisa terdiam. Lalu aku melepaskan pelukan ibu dengan pelan. Ibu menyadari bahwa aku kurang percaya, oleh karna itu ibu menjelaskan bahwa Nia dan keluarganya kecelakaan dan mayat mereka sudah dimakamkan di desa daerah  neneknya. Penjelasan itu membuat air mataku jatuh, hatiku tergoncang dan aku langsung berlari meninggalkan ibu menuju kamar. Aku masih tak percaya dengan peristiwa itu.
            Dipikir-pikir aku sudah mengurung diri di kamar selama 1 minggu. Aku mulai merasa bosan mengurung diri ini. Lalu aku kuatkan tubuh yang lunglai ini untuk beranjak dari tempat tidurku menuju kursi dekat cendela kamarku. Saat aku membuka kaca cendela, aku melihat matahari yang mulai meninggi, burung-burung yang berterbangan, dan udara sejuk yang kurasakan. Tapi entah kenapa, sudut pandangku berubah menuju rumah yang terkunci dan berdebu. Mataku mulai berkaca-kaca kembali. Lalu aku memegang kunci yang tergeletak di meja sambil aku genggam. Lalu aku mulai beranjak lagi dari kursi dan keluar dari kamar. Aku mulai keluar rumah menuju rumah Nia. Saat aku membuka pintu rumah Nia dengan kunci yng aku bawa, udara pengap menyapa ku. Ku lanjutkan tuk masuk ke dalam dengan pelan. Di dalam ruangan terlihat lorong-lorong bawah kursi tampak bersawang. Aku tetap melanjutkan menuju kamar Nia. Saat ku membuka pintu kamar Nia, terlihat foto-fotoku bersamanya tertempel di dinding dengan rapi. Mengingatkanku akan saat bermain bersamanya. Air mataku mulai menetes kembali. Lalu kubuka cendela kamar Nia agar udara masuk dengan lancar. Saatku buka cendela, tiba-tiba ada sekilas bayangan lewat di belakangku. Aku menoleh dengan respon. Angin juga tiba-tiba berhembus menerpaku sampai menjatuhkan dan membuka diary Nia. Aku terkejut , entah siapa yang menjatuhkan diary ini. Aku mulai merasa merinding, tapi ku beranikan tuk pelan-pelan mengambil dan membacanya. Tanganku tiba-tiba gemetar saat membaca tulisan, “Relakan aku pergi Salsa”. Membaca tulisan diary itu, aku langsung berlari sambil kujatuhkan diary itu. Aku sangat ketakutan, sampai-sampai aku tak sadar bahwa kunci masih menggantung di pintu rumah Nia. Aku tak peduli. Aku langsung masuk kamar dengan terburu-buru.
            Setelah aku menenangkan diriku, aku kembali lagi ke dalam rumah Nia untuk membereskan kekacauan yang terjadi sebelumnya. Aku mengambil diary yang jatuh dan meletakkan kembali di atas meja yang biasanya Nia taruh. Setelah itu aku mengunci kembali pintu rumah Nia. Akhirnya aku bisa mengambil keputusan sekarang, setelah merenung, dan memikirkan peristiwa yang terjadi. Ternyata mengikhlaskan sahabat pergi itu tidak mudah, tapi aku harus berusaha mengikhlaskan kepergiannya agar ia pergi dengan tenang meskipun hati ini terasa sakit. Ku kan ikhlaskan engkau pergi Nia, wahai sahabatku.



0 komentar:

Posting Komentar